Malam ini kami bertolak dari
Ibukota Negara Republik Indonesia menuju Sorong, kota nun jauh di ujung timur
Indonesia. Terbang dengan membawa semangat perubahan khas anak muda untuk
mendidik anak-anak di daerah Tambrauw, Papua Barat.
Sejak diumumkan mendapat
kesempatan mengajar di Kabupaten Tambrauw, tidak satupun dari kami yang pernah
menginjakkan kakinya disana, jangankan menginjakkan kakinya, mendengar namanya
pun baru satu kali ini. Seribu tanya beterbangan di kepala kami. Tempat yang bagaimana
yang akan kami datangi ini? Meski dipenuhi tanya, tapi itu sama sekali
menyurutkan niat kami, guru SM-3T untuk pergi mendidik kesana.
Acara lepas sambut SM-3T IV dan SM-3T V Kab.
Tambrauw
Pengalaman perjalanan sampai di kampung
Sampai di Kota Sorong, kami yang
berjumlah 45 orang ini akan di sebar ke seluruh kampung yang ada di Kab.
Tambrauw, saya sendiri kedapatan di Kampung Saubeba, Distrik Abun. Ada dua
teman lainnya yaitu Bayu dan Mira yang sama-sama dapat di Distrik Abun tapi
kita bertiga berbeda kampung. Perjalanan menuju kampung diawali dengan
perjalanan darat menggunakan mobil Hilux selama kurang lebih 4 jam dengan medan offroad sampai di Sausapor (ibu
kota sementara Kab. Tambrauw). Setelah sampai di Sausapor, perjalanan akan
dilanjutkan dengan menggunakan perahu kayu dengan kapasitas kurang lebih 5
orang. Masyarakat biasa menyebutnya dengan long
boat. Kampung Saubeba hanya bisa diakses melalui jalur laut, alat
transportasi yang tersedia hanya long
boat dari Sausapor atau kapal
perintis dari Kota Sorong sampai di kampung
kemudian dilanjutkan naik long boat
untuk merapat dari lautan ke kampung. Perjalanan menggunakan long boat ini membutuhkan waktu sekitar
1-2 jam perjalanan.
Malam pertama di Saubeba
Setelah melewati perjalanan
dengan ombak dan gelombang yang menegangkan, akhirnya saya tiba di Kampung
Saubeba. Ketika perahu merapat ke pantai, seketika anak-anak langsung
mengerumungi perahu yang saya tumpangi. Mereka nampak heran melihat saya,
sambil terheran-heran mereka langsung membawa semua barang-barang yang saya
bawa ke rumah yang sudah disiapkan untuk saya tempati.
Selama satu tahun yang akan
datang, saya akan tinggal di rumah dinas kepala sekolah bersama dengan ibu guru
honor disana. Rumahnya cukup luas, dan merupakan rumah paling besar dibanding
teman-teman SM-3T lainnya. Hanya saja di kampung ini listrik masih menggunakan
generator dan bisa dihitung dengan jari berapa kali listrik menyala selama satu
tahun saya bertugas. Sementara signal telefon juga tidak ada. Kita baru bisa
menelpon jika ada kapal putih lewat, itupun signal yang dibawa tidak selalu
kuat. Pengalaman yang unik adalah ketika malam hari sekitar pukul 19.00 WIT
kondisi kampung sudah sepi dan gelap, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu sambil
memanggil-manggil saya, “Ibu....Ibu... ibu tempo. Kapal putih masuk! Ibu tempo!
Ibu bawa ibu pu hape ke
laut!”. Saya bergegas mengambil handphone dan berlari ke pantai. Sampai
di ujung pantai menggerak-gerakan handphone,
mencari dimana signal yang kuat hanya untuk memberi kabar keluarga di Jawa
bahwa saya sudah sampai di kampung. Selesai mengabaran orang rumah, saya
kembali lagi ke rumah.
Malam gelap, sepi, hanya berteman
pelita. Waktu baru menunjukkan pukul 20.00 WIT dan saya sudah tidak tahu apa
yang ingin dilakukan. Listrik tidak ada, signal tidak ada. Sesekali malam hanya
berbincang-bincang sampai mengantuk. Awal yang berat untuk saya saat itu dimana
di temat tugas tidak ada listrik dan signal. Sementara air ada di kran-kran air
di depan rumah. Kita tinggal menyambungkan selang dari kran ke pipa kamar
mandi. Namun seringkali airtidak kencang mengalir, jadi saya harus mengangkat
air dari kran ke kamar mandi. Malam-malam pertama di saubeba terasa sangat
panjang.
Ah, segitu dulu cerita saya. Tak sabar menyambut hari esok. ada kejutan apa lagi disini :)
Ah, segitu dulu cerita saya. Tak sabar menyambut hari esok. ada kejutan apa lagi disini :)


