Sabtu, 30 Maret 2019

Malam Pertama Di Saubeba,Tambrauw


Malam ini kami bertolak dari Ibukota Negara Republik Indonesia menuju Sorong, kota nun jauh di ujung timur Indonesia. Terbang dengan membawa semangat perubahan khas anak muda untuk mendidik anak-anak di daerah Tambrauw, Papua Barat.

Sejak diumumkan mendapat kesempatan mengajar di Kabupaten Tambrauw, tidak satupun dari kami yang pernah menginjakkan kakinya disana, jangankan menginjakkan kakinya, mendengar namanya pun baru satu kali ini. Seribu tanya beterbangan di kepala kami. Tempat yang bagaimana yang akan kami datangi ini? Meski dipenuhi tanya, tapi itu sama sekali menyurutkan niat kami, guru SM-3T untuk pergi mendidik kesana.

Acara lepas sambut SM-3T IV dan SM-3T V Kab. Tambrauw



Pengalaman perjalanan sampai di kampung

Sampai di Kota Sorong, kami yang berjumlah 45 orang ini akan di sebar ke seluruh kampung yang ada di Kab. Tambrauw, saya sendiri kedapatan di Kampung Saubeba, Distrik Abun. Ada dua teman lainnya yaitu Bayu dan Mira yang sama-sama dapat di Distrik Abun tapi kita bertiga berbeda kampung. Perjalanan menuju kampung diawali dengan perjalanan darat menggunakan mobil Hilux selama kurang lebih 4 jam dengan medan offroad sampai di Sausapor (ibu kota sementara Kab. Tambrauw). Setelah sampai di Sausapor, perjalanan akan dilanjutkan dengan menggunakan perahu kayu dengan kapasitas kurang lebih 5 orang. Masyarakat biasa menyebutnya dengan long boat. Kampung Saubeba hanya bisa diakses melalui jalur laut, alat transportasi yang tersedia hanya long boat dari Sausapor atau kapal perintis dari Kota Sorong sampai di kampung kemudian dilanjutkan naik long boat untuk merapat dari lautan ke kampung. Perjalanan menggunakan long boat ini membutuhkan waktu sekitar 1-2 jam perjalanan.


Perjalanan menuju Saubeba dengan longboat





Pemandangan sepanjang perjalanan


Malam pertama di Saubeba

Setelah melewati perjalanan dengan ombak dan gelombang yang menegangkan, akhirnya saya tiba di Kampung Saubeba. Ketika perahu merapat ke pantai, seketika anak-anak langsung mengerumungi perahu yang saya tumpangi. Mereka nampak heran melihat saya, sambil terheran-heran mereka langsung membawa semua barang-barang yang saya bawa ke rumah yang sudah disiapkan untuk saya tempati.

Selama satu tahun yang akan datang, saya akan tinggal di rumah dinas kepala sekolah bersama dengan ibu guru honor disana. Rumahnya cukup luas, dan merupakan rumah paling besar dibanding teman-teman SM-3T lainnya. Hanya saja di kampung ini listrik masih menggunakan generator dan bisa dihitung dengan jari berapa kali listrik menyala selama satu tahun saya bertugas. Sementara signal telefon juga tidak ada. Kita baru bisa menelpon jika ada kapal putih lewat, itupun signal yang dibawa tidak selalu kuat. Pengalaman yang unik adalah ketika malam hari sekitar pukul 19.00 WIT kondisi kampung sudah sepi dan gelap, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu sambil memanggil-manggil saya, “Ibu....Ibu... ibu tempo. Kapal putih masuk! Ibu tempo! Ibu bawa ibu pu hape ke

laut!”. Saya bergegas mengambil handphone dan berlari ke pantai. Sampai di ujung pantai menggerak-gerakan handphone, mencari dimana signal yang kuat hanya untuk memberi kabar keluarga di Jawa bahwa saya sudah sampai di kampung. Selesai mengabaran orang rumah, saya kembali lagi ke rumah.

Malam gelap, sepi, hanya berteman pelita. Waktu baru menunjukkan pukul 20.00 WIT dan saya sudah tidak tahu apa yang ingin dilakukan. Listrik tidak ada, signal tidak ada. Sesekali malam hanya berbincang-bincang sampai mengantuk. Awal yang berat untuk saya saat itu dimana di temat tugas tidak ada listrik dan signal. Sementara air ada di kran-kran air di depan rumah. Kita tinggal menyambungkan selang dari kran ke pipa kamar mandi. Namun seringkali airtidak kencang mengalir, jadi saya harus mengangkat air dari kran ke kamar mandi. Malam-malam pertama di saubeba terasa sangat panjang.

Ah, segitu dulu cerita saya. Tak sabar menyambut hari esok. ada kejutan apa lagi disini :)







Rabu, 19 September 2012

kapok nge-blog????

pagi ini baru banget pulang pengembaraan...
lega akhirnya pengembaraan kelar juga.

baru lega perasaan ni, eh pas pagi2 nyalain hp ada sms masuk...
seseorang, sebut saja "capung", dia gasuka kalo cerita si capung gw tulis di blog.

agak kaget, eh kaget deh trnyata dia tau gw nulis ttg dia d blog. gw pikir gak akan terendus sm dia.
pas gw tanya darimana tau, capung bilang dr temennya. hmmm terlalu kepo klo itu cm temen biasa *menurut gw sih*
yaudah sih gak penting. yg penting adalah gw sekarang maluuuuuuuuu karena ketauan nulis ini.
itu kan cerita lama, dan tujuan gw nulis juga cuma buat curhat aja. gw mau nulis d note fb jauh lebih frontal. twitter gak bs curhat panjang, makanya gw pilih blog. lagian gw gak pny tmn d blog ini, jadi gw pikir org yg kenal sm gw gak akan baca... aman kan? 
salahnya gue adalah gw terlalu frontal nulis di blog. nama, foto, dan macem2nya gw posting. rrrrgggghhh bgt..
agak sedih waktu ngapus tulisan itu.. bukan sedih knapa2, tp sedih krna tadinya ini blog buat kenangg2an gw 10 tahun yg akan datanng :(

mana tau temennya capung, atau capungnya sendiri baca...
maaf yaaa... gw gak maksud apa2, itu cuma ungkapan perasaan yg dulu kadang2 masih galau.
maaf yaaaaa..... semoga masih bisa menjalin silaturahmi yg baik. amin.

*pelajaran moral kesekian :
jangan posting terlalu frontal #ngooooooooooookkkkk -_-"

Jumat, 13 April 2012

sampah

ini ketiga kalinya gw bikin blog. blog pertama dan kedua gw kasusnya sama, yaitu lupa password. hehehehe... berhubung tmn2 gw udh pd gaul d blog, dan gw gamau dibilang norak krna gk pny blog, yaudah akhirnya gw bikin blog (lagi).
temen2 gw yg pd pny blog itu notabene mereka2 yg suka nulis. klo gak ya isinya materi kuliah. ah tp berhubung gw gak bisa nulis, yaudah... gw bikin blog atas dasar kebutuhan pribadi akan tempat untuk bergalau. hahahaha
galau d facebook diliat sodara2 malu, d twitter d cengin tmn2. yaudah gw cari pelarian kesini aja..

jujur gw gak ngerti ada apa2an aja di blog tuh. jd jgn heran klo blog gw sepi.

hmmm anyway, sesuai tujuan gw bikin blog tadi, sekarang gw mau galau ah.

gw lg kasmaran saudara2... sama siapa??? yap, sama temen beda angkatan di kmpus gw.
dulu gw bilang klo gw gamau suka *yang berlebihan* sama org di kampus. menurut gw itu gak seru. eh sekarang kena juga sama anak kampus.
knapa bisa?
gw gatau awalnya gmna.. yg pasti gw ngerasa kagum sama dia itu sekitar bulan maret kemaren.
gw kenal dia udah dari september 2011, tp sama sekali gk ada rasa apa2. dan pas kita bareng di suatu kegiatan di kampus, ngobrol2 sama dia, eeeh kok ni org pinter ya??? enak diajak ngomong dan gw nyaman ngobrol sama dia. nah loh?! trus ditambah pertemuan kita yg intens dan klo diliat2, dia maniiiiis deh.. gw makin kagum sama dia :)
sejak itu gw kepo ttg dia. gw ngintipin fb nya, twitternya, blognya juga. hehehe
gw gatau dia masih pny pasangan apa gak, yg gw tau dia putus nyambung sama pasangannya yg terkahir ini.
tp itu gk masalah buat gw, maksuudnyaaaa.... dia pny pasangan atau gak, kagum gw akan sama ke dia. cm yg bedain klo dia gak pny pasangan, yaaaa gw rada2 ngarep bolehlaaah. hahahaha
gw mau membatasi rasa gw ke dia, gw mau cukup disini aj rasa gw. jgn ada cinta ke dia. krna klo udah cinta itu kesel kalo gak bisa bareng sama dia.

"i love to see ur smile from ur back, because i can smile to see ur smile" without u know that i smile of you..


Kutulis Surat Cinta Ini Di Hamparan Bunga Edelweis Di Alun-Alun Suryakencana


Kamu tahu sayang, Cintaku. Laksana bunga edelweis, Sang Anaphalis javanica, tumbuh di puncak-puncak gunung yang sulit terdaki. Begitupun cinta kita yang penuh perjuangan dan pengorbanan demi merengkuh bahagia bersama.

Kamu tahu sayang, Cintaku. Laksana bunga edelweis, Sang Anaphalis javanica yang putih, halus, dan lembut, begitupun cinta kita yang suci lagi tulus.

Kamu tahu sayang, Cintaku. Laksana bunga edelweis, Sang Anaphalis javanica yang tiada pernah layu meski jatuh dan terberai dari tangkainya, begitupun cinta kita yang abadi dan tiada pernah mati.

Aku tahu sayang, Cintaku. Meski kau tak berucap namun terbesit hasrat di hatimu untuk mendapatkan setangkai bunga abadi perlambang cinta ini. Seperti sekian sahabat perempuanmu yang mendapatkan bunga edelweis, Sang Anaphalis javanica sebagai kado cinta dari kekasih-kekasihnya.

Namun, cukup sehelai kertas ini saja yang kupersembahkan kepadamu. Janganlah Engkau kecewa, kekasih. Meskipun tanpai setangkai bunga edelweis menyertainya namun sekali lagi kubisikkan kepadamu; kutulis surat cinta ini untukmu sayang, tepat di antara rimbunnya hamparan bunga Edelweis di Alun-alun Suryakencana. Di kaki gunung Gede Pangrango.

Aku yakin kamu paham. Aku tidak akan tega merenggut setangkaipun Sang Anaphalis javanica yang semakin langka dan terancam kepunahan ini. Bukankah kitapun tidak ingin cinta kita sirna dan punah ditelan keegoan diri?.

Dan akupun yakin kamupun tahu bahwa di dalam dada ini ada hati yang lebih abadi ketimbang bunga edelweiss, Sang Anaphalis javanica. Dan semua itu hanya untuk dirimu.

Alun-alun Suryakencana, di antara hamparan bunga edelweis.
Aku yang abadi mencintamu.